Categories
Artikel

Sekilas mengenai tentang Meta Model (disingkat Me-Mo)

Meta Model merupakan salah satu model komunikasi pertama dalam NLP, Me-Mo sendiri merupakan hasil permodelan dari dua “Wizzard” ,yaitu Fritz Perls dan Virginia Satir. Me-Mo pertama kali diperkenalkan lewat buku “Structure of Magic Volume 1 & 2”. Pertanyaan menarik yang sempat muncul ketika saya menjelaskan meta-model adalah, “kenapa namanya meta model? Bukan Perls & Satir Model? “
Berangkat dari pertanyaan tersebut, saya mencoba member gambaran yang sedikit lebih jelas mengenai meta-model.

Buku pertama NLP, yaitu Stucture of Magic, Kenapa dengan nama “MAGIC” ? Magic yang diungkapan dalam buku tersebut mengungkapan tentang bagaimana manusia hidup dalam dunia “magic”, bagaimana manusia membentuk (representasi) dunia External yang di lihat, didengar, dirasakan, belum tentu sama dengan yang berada dalam internalnya.
Yang disebut “MAGIC”
• Manusia merupakan salah satu mahluk hidup di bumi yang menggunakan bahasa yang terstruktur, dan manusia secara tidak sadar memilih kata-kata yang digunakan dan struktur bahasa yang digunakan.
• Bahasa merupakan fungsi dasar manusia bagaimana manusia merepensetasikan dunia eksternal, dan bahasa juga digunakan untuk mengkomunikasikan representasi tersebut. Manusia tidak pernah lepas dari lingkungan sosial, sehingga representasi internal kita terhadap dunia itupun terpengaruh oleh keadaan sekitar kita.
• Mengenal distinguisi bahasa seseorang, kita dapat mengetahui peta mental orang tesebut.
• Sering kali “kapabilitas” manusia yang sesungguhnya terbelenggu hanya karena peta internalnya yang tidak “jelas” / “bias”.

Berangkat dari perkenalan terhadap “magic”, ternyata dalam perihal manusia merepresentasikan duniaNYA terjadi beberapa distinguisi, yakni : Delesi, Generalisasi, Distorsi.
Delesi: Manusia cenderung menghilangkan/mengurangi informasi yang masuk.
Generalisai : Kecenderungan untuk generalisir informasi yang masuk.
Distorsi : Kekaburan makna dari sebuah informasi yang masuk,

Kekuatan sebuah PILIHAN – *Choice is Better Than No Choice*
Sering kali manusia terjebak pada sebuah kondisi yang membuatnya seakan-akan tidak ada pilihan, seperti:
“Saya selalu gagal” ,
“Jika mau kaya harus jadi pengusaha “,
“Jika saya mundur maka saya kalah” ,
Beberapa kalimat tersebut mungkin sering terdengar ditelinga kita, atau jangan-jangan dari kita sendiri yang mengucapkannya. Apapun yang kita lontarkan dengan bahasa kita, itu merupakan representasi saja. Kajian menarik dari Alfred Korzybski bahwa “MAP is not The Territory” (Peta Bukan Merupakan Wilayah), Representasi kita terhadap dunia itu merupakan representasi semata bukan merupakan dunia sesungguhnya, misalkan anda diminta untuk menceritakan bagaimana bentuk “Gajajh, Kita tidak meletakan “Gajah” dalam pikiran kita, tapi kita hanya merepresentasikan “Gajah”.

Meta Model mengajak kita untuk memperluas “MAP” sehingga kita memiliki pilihan-pilihan yang lebih memberdayakan.
Contoh:
“Saya selalu gagal” (kategori generalisasi). Kalimat ini sangat bias! atau tidak jelas, jika kita memindai dalam proses mentalnya, orang yang mengucapkan hal tersebut sangat focus pada “kegagalan” tersebut, meta model menantang proses mental orang tersebut dengan cara “ Apakah selalu?” atau “Gagal dalam hal apa?” dengan menantang proses berpikirnya, membantu agar orang tersebut agar -tidak focus pada kegagalan itu, tetapi melihat lebih jauh bahwa dia tidak selalu gagal. Ketika seseorang menyadari bahwa dia tidak selalu gagal, dia diberikan pilihan-pilihan untuk “me-maknai” ulang arti kegagalan tersebut sehingga dia tidak lagi terbelenggu pada “kegagalan”.
Kembali lagi kepertanyaan diatas, kenapa di sebut META – MODEL?
Meta diambil dari bahasa Yunani yang berarti atas/ melebihi. Model : merupakan bagaimana manusia “me-model” (representasi) Dunia Eksternalnya. Ketika manusia memodel dunia eksternalnya kencederungan untuk melakukan delesi, generalisasi, dan distorsi pasti selalu terjadi. Ketika manusia memiliki sebuah objektif tetapi terintevensi oleh Delesi,Generalisasi,Distorsi, maka digunakan meta-model untuk digunakan untuk memetakan ulang peta internal sehingga mendapatkan pemaknaan yang lebih jelas.
Itu hanya sebagaian kecil “Magic” dari Meta-Model, semoga sharing saya bisa berguna.

Categories
Artikel

Sejarah NLP

Inti dari NLP adalah “modelling” apa yang terbaik dari seseorang. dari situ juga, sejarah NLP dibuka pada awal tahun 1970-an oleh kolaborasi antara Richard Bandler dan John Grinder di University of California.

Bandler, mahasiswa matematika yang mempunyai ketertarikan khusus pada ilmu komputer, terlibat dalam transkripsi beberapa rekaman video dan audio atas seminar-seminar Fritz Perls (Bapak Gestalt Therapy) dan Virginia Satir ( Pendiri Family Therapy ). Dari situ ia menarik pelajaran, dengan meniru apek-aspek tertentu prilaku dan bahasa Perls dan Satir, maka ia bisa mencapai hasil yang sama dengan mereka. Dengan demikian, ia pun mulai membentuk kelompok Gestalt Therapy di kampus.

Grinder, yang sudah jadi associate professor bidang Linguistic di University Of California, tergelitik oleh kemampuan Bandler. Ia pun berkata, ” Jika kau mengajariku bagaimana melakukan segala yang kau lakukan, maka akan kukatakan padamu apa yang kau lakukan.”

Hal itu terjadi tak lama sebelum Grinder juga bisa mendapatkan hasil terapetik yang sama dengan Bandler dan Perls-dengan cara sekadar menirukan apa yang Bandler katakan dan kerjakan. Kemudian, dengan proses pengurangan-yakni secara sistematis membuang beberapa elemen tertentu-Grinder bisa menentukan mana yang essential dan yang tidak relevan.

Menyadari bahwa mereka telah mendapatkan sesuatu, Bandler dan Grinder memadukan kekuatan. Keduanya lalu menulis buku NLP pertama berjudul The Structure of Magic yang diterbitkan pada tahun 1975. Dengan subjudul A Book About Languange and Therapy, buku ini memperkenalkan model pertama NLP, yakni Meta Model-12 pola bahasa yang disarikan dari modelling Perls dan Satir.

Esensi dari NLP pun didefinisikan. Dengan mempelajari seksama dan menganalisis secara menyeluruh-yakni modelling-para jenius dibidang mereka masing-masing, maka sangat mungkin bagi siapa saja untuk mengopi unsur-unsur krusialnya dan mencapai hasil yang sama. Jika ingin menjadi jagoan Golf, Anda harus memodelkan (mempelajari secara seksama dan menganalisis secara menyeluruh) orang-orang yang benar-benar hebat dalam bidang golf. Anda harus menobservasi apa yang mereka katakan dan lakukan, dan kemudian secara mental menanyakan apa yang sedang terjadi. Saat melakukan itu, Anda sudah menciptakan suatu cetak biru bagi kesuksesan yang juga bisa digunakan oleh siapa saja.

Penemuan penting kala itu adalah pengalaman subjektif kita terhadap dunia sekitar kita sebenarnya mempunyai struktur . Bagimana kita berpikir tentang sesuatu bakal berpengaruh pada bagaimana kita mengalaminya. Mengutip karya besar Alfred Korzybski, NLP membuat pembedaan antara “teritori” (yakni dunia-atau segala yang ada disekitar kita) dengan “peta” internal ( bagaimana kita menciptakan dunia itu diotak kita). Pembedaan ini sering diekspresikan sebagai “The Map is Not The Territory” atau “Peta bukanlah teritori” atau terjemahannya ” Apa yang tergambar diotak kita adalah bukan keadaan dunia yang sebenarnya.”

Noam Chomsky, pakar linguistik yang mengembangkan transformational grammer, sudah menunjukkan bahwa peta kita akan selalu menjadi versi yang tidak lengkap dan tidak akurat tentang apa yang terjadi dalam dunia. Hal ini karena ada proses penghapusan, pembiasan, san penggeneralisasian, yang terjadi saat informasi disalurkan melalui saluran-saluran Linguistic dan Neurologis kita. Jika ada orang yang mempunyai masalah, sangat mungkin karna mereka slah menafsirkan peta buruk diotak mereka sebagai realitas yang begitu kaya didunia nyata. Namun demikian, saat peta mereka dibuat lebih baik dan lebih kaya dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan meta model atau menggunakan teknik-teknik lain dalam NLP, maka mereka bisa mengembangkan lebih banyak pilihan. Mereka akan merasakan lebih mudah meraih segala yang mereka inginkan.

Itulah sekilas sejarah NLP yang bisa kita ambil maknanya. Anda ingin belajar nlp dan menjadi Trainer SDM berbasis NLP ? silahkan bergabung dengan training kami, informasi lebih lanjut hubungi IMT: 081802115340, pin BB: 74418B64.

dikutip dari buku NLP for Personal Success

Categories
Artikel

Perkembangan NLP dan Systemic NLP

NLP dalam dunia pelatihan telah menjadi suatu jargon disiplin ilmu baru yang dengan cepat tumbuh dan berkembang. Kemampuan para pengguna NLP untuk melakukan terapi dengan cepat terhadap penderita beberapa jenis phobia telah membuka mata mengenai efektifitasnya. Di era 1970 Richard Bandler melakukan riset terhadap hasil rekaman para terapis seperti Milton Erickson, Virginia Satyr dan Fritz Perls, ketika mereka melakukan terapi terhadap para pasien mereka. Berkolaborasi dengan John Grinder, salah satu pengajar linguistic di University of California Santa Cruz, NLP muncul sebagai hasil rangkaian proses replikasi cara terapis yang sangat mengagumkan. Buku Structure of Magic volume I dan II menjadi hasil karya Grinder dan Bandler yang membahas bagaimana struktur semantik yang digunakan ketiga terapis dalam proses penyembuhan pasien mereka. Dunia para terapis mendapat angin segar walaupun tidak semua menerima dengan hati gembira karena dua orang dari California yang notabene bukan psikolog ternyata justru mampu melakukan terapi penyembuhan yang jauh lebih cepat dan efektif.

NLP di Indonesia kini menjadi populer. Banyak para pelatih yang memberikan embel-embel ahli NLP. Kursus menjual dan mengelola SDM pun kini diberi label NLP. Di negara asalnya sendiri kini NLP telah berkembang demikian jauh melampaui aplikasi awalnya. NLP telah digabung, melebur, berasimilasi dengan banyak pendekatan ataupun intervensi proses lainnya dan menjadi suatu approach yang merupakan evolusi dari apa yang Bandler dan Grinder lakukan di era 70an.

Secara umum NLP mengalami pengembangan melalui tiga fase. Fase pertama adalah era 1970-80an. Dijaman ini NLP dengan cepat merebak dan populer. Anthony Robbins menjadi salah satu pengegrak tumbuhnya komunitas pengguna NLP ketika dia mulai masuk dengan buku Unlimited Powernya. Dalam perkembangan di era ini banyak para pakar kepemimpinan dan pengembangan SDM mengadopsi prinsip NLP. Contoh yang paling terkenal adalah Stephen Covey dengan 7 habitnya. Prinsip NLP di era ini amat terkenal dengan presuposisi The Map is not the Territory dan If you go on doing the same things again and again you will likely to get the same results. Prinsip ini sangat mirip dengan apa yang Stephen ajarkan sebagai begin with the end in mind dan Sharpen the Saw. Sayangnya banyak pakar seperti Covey lebih berpegang pada content (isi ajaran) dan kurang menjelaskan teknis proses yang perlu ditempuh untuk mencapai content yang dia ajarkan.

Di era pertama pengembangan NLP ini terjadi paradigma bahwa ada seorang yang memiliki kemampuan NLP dan ada ‘pasien’ yang perlu pertolongan. Maka kemampuan hypnoteraphy (yang notabene merupakan salah satu kemampuan inspirator NLP seperti Milton Erickson) menjadi salah satu bagian penting. Di era ini aplikasi NLP sangat kental dengan proses penyembuhan keterbatasan diri. Murid para formulator NLP juga turut mengembangkan lebih jauh aplikasi NLP menuju era kedua NLP. David Gordon misalnya lebih menuju kearah modeling dan penggunaan metaphor untuk penyembuhan, Genie Laborde lebih kearah penggunaan NLP untuk aplikasi komunikasi. Steve Andreas yang juga bekerja membantu Richard memfokuskan diri klebih ke personal development. Michael Hall misalnya mengembangkan neuro semantic, sementara Joseph O’ Connor mengembangkan NLP kedunia aplikasi coaching. Steve Andreas, Charles Faulkner, Robert Dilts dan beberapa murid generasi pertama mulai mendirikan komunitas pembelajaran NLP yang terkenal dengan NLP comprehensive dan NLP University. Bersama Judith De Lozier (eks istri John Grinder), Robert Dilts membesarkan komunitas NLP University. Mulailah era pengembangan kedua NLP yang melebarkan sayap aplikasi NLP di dunia olah raga, komunikasi, penjualan dan organisasi. Di era kedua ini pengembangan NLP dilakukan sangat pesat oleh Robert Dilts, Steve Andreas dan Anthony Robbins. Bedanya Anthony masuk kearah motivational speakers dengan ciri mengajarkan NLP secara masal (satu even bisa berbicara ke ribuan peserta pelatihan) sedangkan Robert dan kawan-kawannya masih mengikuti metode pengajaran NLP melalui kelas-kelas terbatas. Aplikasi NLP di era kedua ini dicirikan oleh munculnya variasi penggunaan teknis NLP seperti sleight of mouth, meta program, logical levels, time lines dan perceptual positions. Ciri yang sama antara NLP era pertama dan kedua adalah masih berfokusnya pada hubungan satu – satu. Ada seorang yang bisa menolong melalui penguasaan metode NLP dan ada ‘pasien’ atau ‘client’nya.

Dalam era 90 pertengahan muncul NLP generasi ketiga yang ditandai dengan pola aplikasi NLP yang generative, sistemik dan fokus terhadap proses pembelajaran, interaksi antar manusia serta pengembangannya. Fokus NLP generasi ketiga lebih luas kepada perubahan suatu system yang meliputi si ‘pasien’, orang-orang terdekatnya dan lingkungannya. Penekanan NLP generasi ketiga terletak pada ‘whole system change’. Robert Dilts terutama menjadi motor penggerak NLP generasi ketiga. Aplikasi model generasi ketiga lebih kearah organizational development termasuk juga ke team dan individu. Apa yang dikembangkan di NLP generasi ketiga lebih ke ’field based’. Contoh nyata dari aplikasi NLP dunia ketiga adalah jika ada masalah mengapa seseorang tidak termotivasi untuk menjual (kasus individu) maka fokus untuk pengembangan bukan hanya masuk ke bagaimana ’membenahi’ individu tersebut dengan mengganti submodalitiesnya saja tetapi termasuk bagaimana individu tersebut mengubah pola interaksi yang terjadi di ekosistemnya agar ada pola reaksi balancing (penyeimbang) dari dirinya bisa menembus keperubahan diri, team dan lingkungan. Pola perubahan lingkungan ini tidak akan terjadi secara otomatis instan namun bisa dicermati sebagai hasil perubahan pola individu yang ekologis dan evolutionary.

Walaupun ada sebutan NLP generasi ketiga di era 2000an tidak berarti para praktisi NLP yang belajar di era ini otomatis mengadopsi NLP generasi ketiga. Ada cukup banyak praktisi NLP yang saat ini berfokus pada aplikasi terapis. Ini bukan pertanyaan mana yang lebih benar atau mana yang keliru. Jika anda bekerja di suatu organisasi dan ingin agar bisa membantu fasilitasi perubahan budaya maka NLP generasi ketiga akan lebih bisa diaplikasikan sebagai sistemic process change. Jika anda sedang membantu orang yang memiliki kebiasaan merokok yang ingin dihilangkan maka teknik NLP generasi kedua seperti parts integration dan perubahan submodalities bisa dipilih sebagai teknis intervensi terapinya. Namun jika anda ingin masuk lebih dalam lagi melihat konstelasi sistemik bagaimana agar dalam jangka panjang orang ini benar-benar bebas dari merokok maka anda perlu mengaplikasikan pendekatan NLP generasi ketiga.

Kekhasan NLP generasi ketiga ada pada pola penggunaan systemic view ketika menghadapi suatu masalah. Systemic view menggali lebih dalam menggunakan empat perceptual position (posisi satu, dua, tiga dan empat) untuk melihat relationship antara individu dengan problem yang dihadapinya. Langkah yang menjadi acuan awal penggerak perubahan terjadi ketika secara systemic ada pengkajian dari multi layer masalah (symptom), penyebab masalah (causes), hasil yang diinginkan (outcome) dan hasil akibat jangka panjang yang diharapkan (effect). Interrelasi antara symptom dan outcome yang sering menjadi mirror dan interelasi antara causes dan effect yang sering berasal dari logical level yang lebih dalam akan membuka penyelesaian yang menyatu antara causes dan effect. Para praktisi NLP yang mendalami skema interaksi ini memang relatif lebih sedikit mengingat saratnya disiplin pembelajaran mengenai kompleksitas sistem yang biasnya intensive di dua tahap awal pembelajaran (tahap conscious incompetent dan unconscious incompetent).

Praktisi NLP yang ada saat ini banyak yang menggunakan teknik generasi kedua dan pertama karena disamping ’mudah’ juga lebih ’instant’ hasilnya untuk individu. Seringkali ada fenomena yang disebut ’meniup balon’ dimana saat sesi pembangkitan motivasi para praktisi membangkitkan energi dan keantusiasan peserta. State individu diubah oleh pengaruh musik, interception belief baru dan kondisi lingkungan ini tidak jarang hanya bersifat temporer. Tendensi seperti inilah yang mendorong Robert Dilts dan rekan-rekannya berfokus kepada suatu systemic change yang lebih ’rooted’. Bagi pembelajar awal NLP pendekatan generasi ketiga tidak jarang dianggap membingungkan dan kompleks. Ini adalah hal yang wajar mengingat proses praktek NLP generasi ketiga memerlukan fondasi skills generasi kedua dan pertama yang sudah diintegrasikan. Sehingga yang terlihat pada praktisi systemic NLP adalah penggabungan linear approach dari generasi pertama dan kedua yang melebur dalam praktek tahap keempat pembelajaran (unconscious competent).

Apa saja yang menjadi ciri praktek NLP generasi ketiga?

Adanya penggalian terhadap field atau medan melalui kesadaran posisi keempat. Disini individu melebur dengan lingkungan tempat dia berada dan perasaannya menjadi satu dalam serial posisi diri sendiri, orang lain, pengamat dan lintas batas dimensi waktu dan ruang yang membuat pemahaman field bisa dirasakan sebagai ekspresi terdalam dari kesadaran tentang apa yang terjadi. Pengalihan fokus dari individual ke medan atau field merupakan ekstensi dari bentuk sistem dan bukan melihat content (isinya). Pemahaman ini sesuai dengan apa yang diterangkan oleh Gregory Bateson: ”The individual mind is immanent but not only in the body. It is immanent in pathways and messages outside the body; and there is a larger Mind of which the individual mind is only a sub-system. This larger mind is comparable to God and is perhaps what people mean by “God”, but it is still immanent in the total interconnected social system and planetary ecology. (Gregory Bateson – Steps to an Ecology of Mind 1972.)

Adanya awakening yang bisa diartikan seperti bangkitnya seseorang dari kondisi tertidur. Bangkit dengan kesadaran baru dari kondisi dorman. Hasil dari awakening ini biasanya muncul dalam sense of purpose diri yang baru, ekspansi mental model. Menjadi awakener memerlukan peran multiple sebagai coach, guru, pemimpin, konsultan, terapis, teman, dan pembelajar. Kondisi awakening terjadi dengan menyatunya apa yang diucapkan dan dilakukan sebagai praktisi NLP. John Grinder dalam berbagai kesempatan sering mengemukakan keprihatinannya bahwa NLP dikenal sebagai suatu teknik saja. Kondisi persepsi dan praktek seperti ini ditengarai oleh merebaknya penggunaan NLP sebagai skill dan bukan sebagai perilaku modeling yang ekologis. Bahkan dalam beberapa literature pelatihan ada sering ucapan bernada miring yang membahas penyalahgunaan NLP sebagai alat untuk seduction atau merayu. Tentu saja ini berpulang kembali kepada kita semua jika memiliki pisau yang tajam apakah mau menggunakan pisau untuk membuat sushi yang lezat atau untuk berkelahi melukai orang lain?.

Ciri ketiga adalah adanya kecenderungan proses pembelajaran, perubahan dan pertumbuhan (change, learning and grow) yang terjadi secara kontinyu sehingga berbagai variasi dukungan peran sebagai praktisi NLP generasi ketiga kadang termanifestasi dalam konteks yang berbeda-beda. Dalam satu konteks mungkin menjadi guru, coach, mentor, menjadi sponsor tetapi dalam konteks lain mungkin menjadi murid, pengikut atau pengamat. Tingkat support dan pembelajaran serta perubahan dipraktisi NLP generasi ketiga terjadi dalam keluarganya, pola inteaksi individu yang masuk ke identitas dan misi pribadi sampai ke peran diri di konteks sosialnya.

Dari sisi kemampuan praktisi generasi ketiga diajarkan agar menjadi lebih sensitive dengan feedback on feedback dan perubahan level of thinking. Sikap untuk melihat keluar secara linier dan melihat situasi sebagai produk hasil kekeliruan orang lain berubah menjadi sistemik. Ini berarti mengubah paradigma bahwa sesuatu peristiwa mungkin memang harus terjadi sebagai bagian pembelajaran, perubahan dan pertumbuhan suatu ekosistem. Dengan sensitifitas ini praktisi berarti juga diasah agar mampu melihat pola sistemik suatu lingkungan. Kata individu dan lingkungan adalah suatu kesatuan merepresentasikan sensitifitas adanya cermin sistemik. Sikap sensitif ini juga membuat para praktisi generasi ketiga menjadi nyaman dengan merasa bahwa dirinya banyak tidak mengetahui. Proses menuju state ini merupakan ciri change-learning dan grow yang berbeda dengan rasa cepat ingin menegtahui yang diajarkan pada linear view. Sensitifitas feedback juga mengandung pengertian adanya ketajaman pengamatan terhadap multiple connection antara lapisan belief, value, identity dan purpose dari individu, team dan sistem secara utuh.

Ciri keempat adalah adanya kesadaran yang tinggi bahwa bagaimana diri berpikir akan mempengaruhi respon terhadap sistem dan respon dari sistem terhadap diri. Contoh dari ciri keempat adalah bagaimana Gandhi menggunakan pola respon yang berbeda terhadap sistem (penjajahan Inggris) sehingga sistem akhirnya merespon gandhi dengan cara berbeda. Systemic view sebenarnya telah dijalankan oleh beberapa orang yang telah mengubah wajah dunia. Mereka tidak belajar NLP tetapi mereka menjalankan prinsip NLP generasi ketiga. Muhamad Yunus yang mempelopori bank retail untuk rakyat miskin di Bangladesh adalah contoh bagaimana dia menggerakan perubahan melalui pekerjaan yang dimulai dari langkah kecil seseorang yang mampu menggerakan perubahan besar.

Ciri kelima adalah adanya beauty atau keindahan dan kecocokan dengan konteks lingkungan yang lebih luas. Dalam contoh diatas kita melihat beauty sebagai wujud teratai yang muncul diatas kolam yang penuh lumpur. Banyak manusia yang tanpa disadari telah melakukan elemen penting praktek NLP generasi ketiga tanpa menyebut satu persatu dunia, masyarakat dan lingkungan bisnis mereka dikenal tanpa kita mendengar namanaya. NLP adalah milik masyarakat NLP adalah praktek tentang apa yang bisa menjadikan diri kita sebagai manusia melakukan terobosan untuk kebaikan kita bersama.

artikel ini dicopas dari tulisan: Leksana T.H.

Pembelajar NLP

Categories
Artikel

Penyebab Anak Menjadi Penakut

Kita sering melihat sebagian anak kurang bisa berkembang potensinya dikarenakan anak tersebut memilliki rasa takut yang berlebihan. Rasa takut pada anak pada umumnya disebabkan oleh perasaan tidak aman sehingga membutuhkan kehadiran orang lain. Biasanya anak yang memiliki rasa takut yang berlebihan juga memiliki tingkat rendah diri yang tinggi. Hal itu dikarenakan oleh citra diri atau penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah. Dengan kepercayaan diri yang rendah maka segala potensi yang dimiliki tidak bisa berkembang dengan maksimal.

Pada umumnya anak menjadi penakut disebabkan oleh antara lain:

  • Sewaktu kecil anak sering ditakut-takuti hal_hal yang kurang masuk akal misalnya: jin, setan, mainan :ular,kecoa,ulat,tokoh-tokoh jahat yang selalu mengancam ketenangan jiwa anak. Hal semacam ini akan tertanam pada bawah sadar anak ,hal ini dikarenakan anak belum memiliki filter pikiran yang kuat sehingga setiap informasi yang masuk ke pikiran akan menjadi program utama pikiran dan disimpan permanen.
  • Anak sering dimarahi oleh orang tua, guru, oleh orang dewasa dengan kata-kata kasar,sehingga menyebabkan mental anak jatuh dan merasa diri tidak berharga. Oleh karena itu kita mesti berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata kepada anak. Orang dewasa memiliki otoritas yang tinggi terhadap anak-anak sehingga perkataan orang dewasa akan menjadi suatu keyakinan kebenaran bagi anak.
  • Anak menjadi penakut juga dapat disebabkan oleh cerita atau bacaan atau media televise yang sifatnya menakutkan misalnya cerita tentang vampire, cerita tentang hantu pemakan anak, cerita tentang penculikan anak, penyiksaan anak dll. Hal ini sangat mempengaruhi kejiwaan anak karena cerita tersebut akan disimpan secara permanen di pikiran anak.
  • Anak menjadi penakut juga bisa disebabkan oleh kurangnya penghargaan yang didapatkan misalnya: pujian bila anak melakukan hal-hal baik atau berprestasi, mendapatkan hadiah dari orang tua. Saat anak mendapatkan pujian maka harga dirinya akan naik karena dia menemukan kekuatan yang bisa dibanggakan kepada orang lain.
  • Anak yang terlalu dimanjakan oleh orang tuanya juga dapat menyebabkan anak kurang mandiri , ia hanya punya keberanian bila dekat dengan orang tuanya. Memberikan perhatian kepada anak sangat baik tetapi bila berlebihan akan menyebabkan anak menjadi ketergantungan dan menyebabkan anak kurang mandiri. Untuk itu bagi orang tua sebaiknya pandai-pandai untuk memberikan perhatian kepada anak sewajarnya.
  • Anak yang terlalu banyak larangan oleh orang tuanya juga dapat menyebabkan anak menjadi penakut. Anak selalu dikelilingi oleh rasa takut melakukan sesuatu karena takut mendapatkan hukuman bila melakukan kesalahan. Bila telah dewasa ada kemungkinan besar anak tersebut akan kesulitan mengambil keputusan atau memutuskan sesuatu.
  • Kurangnya sosialisasi atau pergaulan dengan anak-anak yang lain juga dapat menyebabkan anak menjadi penakut karena melihat anak lain sebagai orang asing dan merasa terancam. Banyak anak yang tidak mau berbaur dengan anak-anak lain dan menangis teriak-teriak dan selalu memegang tangan ibunya. Untuk itu akan lebih baik bila sejak dini anak sering diajak bermain dengan teman-teman yang seusianya.
  • Anak sering dikagetkan oleh teriakan atau suara-suara keras, hal ini sangat berbahaya bagi anak. Anak menjadi sensitif dan terlalu waspada dan menyebabkan anak menjadi penakut. Maka berhati-hatilah dalam bermain dengan anak ,hindari permainan yang mengagetkan mental anak.

Anak adalah asset yang paling berharga bagi orang tua, kita semua tentu setuju dengan kalimat tersebut. Semua jerih payah orang tua hamper seluruhnya adalah untuk menyiapkan masa depan anak-anak kita. Anak akan berkembang dengan baik apabila kita dapat memberikan perlakuan yang tepat dan benar kepada anak-anak kita.  Ada baiknya kita sebagai orang dewasa mengetahui bagaimana cara memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak kita. Teknologi pikiran sangat tepat anda pelajari karena didalamnya terkandung berbagai macam strategi memprogram dan bagaimana memperlakukan pikiran dengan benar.Hipnoterapi dan NLP adalah ilmu teknologi pikiran yang menjadi perhatian kami. Kami mengadakan training Hipnoterapi dan NLP setiap hari Sabtu dan Minggu , Anda dapat melihat jadwal di website kami:www.kampusnlp.com. Bila Anda tertarik untuk mengikuti Training kami silahkan hubungi kami IMT, wa: 081802115340.

Categories
Artikel

Penyakit Pikiran Bawah Sadar

Penyakit pikiran adalah salah satu penyakit yang sulit dideteksi, apalagi disembuhkan. Hal ini berbeda dengan penyakit badani. Tetapi sebenarnya, apakah penyakit pikiran itu? Dan apa penyebabnya?

Menurut Charless Tebbetts  (salah satu maestro Hipnoterapi),setiap gejala /simtom dari suatu masalah sebenarnya berasal dari salah satu atau sekumpulan sebab ( Seven psychodynamics of a Symtom) yaitu meliputi:

  1. Self Punishment;perasaan bersalah akibat dari keputusan/tindakan yang telah diambilnya karena dianggap membuat orang lain menderita.Contoh: seorang pimpinan perusahaan yang memecat karyawannya karena dianggap melakukan kesalahan fatal.Seiring berjalannya waktu karyawannya yang dipecat kemudian hidupnya menderita dan meninggal. Setelah beberapa lama ternyata karyawan tersebut terbukti tidak bersalah dan pimpinan yang memecat merasa bersalah begitu besar sehingga menyebabkan sakit-sakitan.
  2. Past Ekperience:pengalaman masa lalu yang menyakitkan diartikan sebagai kekalahan, memalukan,tidak menyenangkan yang kemudian disimpan menjadi fobia gelap.Contoh sesorang wanita dewasa merasa ketakutan saat harus berbicara didepan umum, setelah diselidiki ternyata akar masalahnya saat masih SD ditertawakan temen-temannya saat presentasi dan gurunya juga ikut tertawa. Hal tersebut dianggap suatu penghinaan dan peristiwa traumatik tersebut terbawa sampai dewasa.
  3. Internal Conflict:adanya bagian dari seseorang yang saling bertentangan dapat menimbulkan penyakit.Contoh: seseorang mengalami kebingungan dengan pilihannya, mau kuliah diluar negeri dengan meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil atau tetap tinggal dengan keluarganya tetapi batal kuliah diluar negeri. Hal ini bila tidak cepat dicari solusinya maka akan menjadi penyaklit pikiran.
  4. Unresolved Present Issue: Masalah yang belum terselesaikan akan memunculkan gejala-gejala penyakit.contohnya: seorang anak remaja bertengkar hebat dengan orang tuanya karena perbedaan pandangan. Pertengakaran tersebut tidak diselesaikan tetapi didiamkan saja. Seiring berjalannya waktu maka orang tuanya merasa sakit hati yang mendalam dan mengakibatkan sakit-sakitan, demikian juga anaknya juga mengalami perasaan bersalah yang mendalam karena belum meminta maaf kepada orang tuanya dan menyebabkan sakit-sakitan.
  5. Secondary Gain:Dibalik penyakit ,ada tujuan mengambil keuntungan yang tersembunyi misalnya”anak sakit supaya mendapatkan perhatian dari ayahnya”.Bila bapaknya mau pergi keluar kota untuk bekerja , anaknya mendadak sakit panas dingin, tetapi setelah bapaknya membatalkan sakitnya sembuh. Hal ini dikarenakan bapaknya mungkin pergi dalam waktu yang lama sehingga kurang memberikan perhatian kepada anaknya.
  6. Identification:bertingkah laku meniru tokoh yang dikagumi dalam segala hal,termasuk bila idolanya sakit.Memodel adalah suatu perilaku yang umum dilakukan oleh manusia baik yang anak-anak,remaja bahkan orang dewasa sekalipun. Untuk orang dewasa biasanya sudah memiliki filter untuk menyeleksi perilaku mana yang bisa dimodel atau yang tidak baik untuk dimodel. Untuk anak dan remaja hal ini sulit dilakukan, maka  sering kali perilaku remaja banyak yang salah karena memodel perilaku yang kurang baik.
  7. Imprint: merupakan sistem keyakinan yang ditanamkan oleh figur yang kuat yang mempunyai otoritas tinggi bagi seseorang, misalnya saat masih belajar ilmu penyembuhan ,ia dinasehati gurunya supaya hidup sederhana jangan numpuk harta,seiring dengan banyaknya pasien kemudian ia makin kaya dan banyak harta.Ia teringat nasehat gurunya kemudian merasa bersalah dan melanggar pantangan,jadilah ia sakit-sakitan.

Semoga artikel diatas menambah pengetahuan kita tentang berbagai penyakit yang disebabkan oleh berbagai faktor pikiran ( penyakit pikiran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir 70 persen lebih penyakit disebabkan oleh faktor pikiran. Bila Anda menginginkan belajar lebih mendalam tentang  pikiran dan penyakitnya serta mengatasinya ,Kami mengadakan training NLP dan Hipnoterapi mengatasi penyakit pikiran . silahkan mengikuti Training Hipnoterapi dan NLP yang kami selenggarakan setiap hari sabtu dan Minggu lihat jadwalnya.

Salam sehat selalu…

Categories
Artikel

Teknik Visualisasi Untuk menghilangkan Rasa Takut

Rasa takut ini sudah menjadi penyakit umum, baik dialami oleh anak anak maupun orang dewasa ataupun bahkan orang tua. Secara garis besar perasaan takut dibedakan menjadi dua yaitu takut secara nyata atau bersifat fisik dan takut secara psikis atau penggambaran dalam pikiran. Hanya saja, memang tidak semua orang mengetahui teknik untuk menghilangkan rasa takut itu. Kali ini kita akan belajar menggunakan teknik visualisasi untuk menghilangkan rasa takut.

Kalau seseorang takut pada ular, pada penjahat tentu itu adalah ketakutan yang sangat wajar dan diterima oleh akal sehat. Bila seseorang tidak memiliki rasa takut dengan ular tentu bisa membahayakan dirinya karena beberapa ular memiliki bisa yang sangat mematikan. Dalam hal ini rasa takut akan memunculkan sikap waspada sehingga seseorang dapat melindungi dirinya. Demikian juga seseorang yang takut dengan penjahat ataupun perampok adalah hal yang lumrah saja karena penjahat biasanya bertindak nekat dan sering membahayakan keselamatan orang lain maka kita sebaiknya bersikap waspada terhadapnya.

Yang lebih sering terjadi adalah seseorang mengalami ketakutan yang sebenarnya hanya merupakan penggambaran yang dilakukan di dalam pikirannya. Semakin penggambaran rasa takut intens maka ketakutan yang dialami menjadi semakin besar dan seolah-oah nyata terjadi sehingga mengakibatkan ketakutan secara fisik juga yang artinya penyakit psikis mengakibatkan reaksi secara fisik. Hal ini dijelaskan dam NLP( Neuro Linguistic Programming) dijelaskan bahwa Mind and body are one system yang dapat diartikan  “Pikiran dan Tubuh merupakan satu sistem yang tentu saja saling mempengaruhi. Seseorang yang sedang belajar setir mobil bila memiliki penggambaran ketakutan yang berlebihan maka akan sulit lancar dalam mengendarai mobil. Mungkin gambaran rasa takutnya adalah bila terjadi salah injak gas dan rem sehingga menabrak orang dan sebagainya, bila pikirannya terus menerus memikirkan hal yang menakutkan maka kemungkinan besar suatu saat memang benar-benar terjadi menabrak orang.

Gambaran ketakutan diatas merupakan contoh visualisasi yang negatif yaitu memikirkan seolah –olah kejadian sudah terjadi tetapi yang dipikirkan adalah hal yang negatif. Pikiran kita memang sulit membedakan keadaan terjadi secara nyata/ riil dan bukan nyata. Saat kita memikirkan dengan intens tentang suatu kejadian maka otak kita sudah mengalami secara nyata, otak sudah membuat jalur-jalur baru sesuai dengan yang kita pikirkan. Kalau kita memikirkan bepergian ke Yogyakarta tepatnya ke Kraton Yogya maka otak kita secara otomatis sudah membuat peta atau jalur ke yogya walaupun hanya dalam otak. Hal ini sangat memudahkan kita saat nantinya kita benar-benar pergi ke Kraton Yogya, otak kita sudah membuat arah petanya.

Saat seseorang sedang latihan mengendarai mobil maka sebaiknya yang dilakukan adalah memikirkan seolah-olah ia mengendarai mobil dalam kondisi yang tenang ,nyaman, selamat,menyenangkan relaks dan seolah-olah dapat dengan mudah mengendarai mobil sudah bisa dengan sempurna.Visualisasikan tangan sangat memegang stir, saat tangan memindahkan gigi, rasakan saat kaki menginjak kopling, rasakan saat kaki menginjak rem, gas dan lakukan seolah-olah dilakukan dengan sangat mudah dan otomatis. Dengan melakukan teknik ini maka seseorang akan lebih cepat belajar mengendarai mobil dan hasilnya kan lebih sempurna karena otak sudah membuat peta belajar stir mobil.

Lalu bagaimana dengan kegiatan yang lainnya? Tentu saja teknik visualisasi ini dapat dipakai untuk menghilangkan ketakutan yang lain misalnya, takut saat akan ujian, takut saat akan menjual produk, takut saat akan bertemu cewek dan lain-lain. Anda tinggal memikirkan semua hal yang ingin anda lakukan dan buatlah seolah-olah semua hal yang akan anda jalani berjalan menyenangkan dan sempurna, maka otak anda sudah membuatkan jalan yang terbaik untuk anda, selanjutnya silahkan anda melakukannya secara nyata sesuai dengan yang anda visualisasikan…mudah bukan?

Bila anda ingin mengetahui  dan belajar mengenai teknik-teknik yang lain silahkan mengikuti pelatihan NLP yang akan kami adakan setiap hari Sabtu dan Minggu. Dalam pelatihan NLP ini Anda akan mendapatkan begitu banyak pengetahuan yang sebelumnya tak terbayangkan oleh Anda. NLP akan menunjukkan kemampuan terbaik Anda dan mempercepat mencapai tujuan hidup Anda.

Segera hubungi IMT, wa :081802115340

Categories
Artikel

NLP Itu Coaching Banget, Coaching Itu NLP Banget

NLP Itu Coaching Banget, Coaching Itu NLP Banget. Ini adalah sebuah istilah yang sangat menarik bagi saya.Sangat powerfull bila dipahami sungguh-sunguh. Tulisan ini sengaja tidak saya simpulkan ,ditambah atau dikurangi, saya biarkan seperti aslinya supaya bisa dipahami secara utuh.

Suatu kali, Michaell Hall pernah berkata, “Jika saja dulu NLP memulai dengan coaching—alih-alih terapi—we can own this field.” Kalimat ini bukan tanpa dasar. Ia didasari oleh pengalamannya mengisi sebuah sesi di salah satu konferensi ICF di sebuah negara. Dari sekitar 24 orang yang diundang—kalau saya tidak salah dengar—3 orang di antaranya adalah para coach berbasis NLP. Hanya 3? Ya, hanya 3 yang benar-benar menyatakan demikian. Namun kala sudah berkenalan satu demi satu, terungkaplah bahwa pembicara lain pun rupanya pernah mengikuti berbagai pelatihan NLP untuk memperkaya keterampilan mereka. Simpulan sederhana, NLP telah sejak lama dipandang sebagai alat bantu oleh para coach profesional.

Maka tak heran jika kemudian Michael Hall mengucapkan kalimat di atas. Sebab merunut pada berbagai asumsi dan pendekatan yang digunakan dalam NLP—terapi sekalipun—kita akan menemukan kesamaan cara pandang dengan coaching. Mungkin sebab era di masa NLP lahir saja lah, yang kala itu memang dikenal coaching seperti sekarang, yang menyebabkan NLP baru menyentuh coaching belakangan.

Apa sebenarnya titik persamaan NLP dengan coaching? Mengapa saya katakana NLP itu coaching banget, dan coaching itu NLP banget?

Mari kita bedah satu per satu.

Dalam NLP, kita mengenal pola dasar perubahan: dari kondisi sekarang (Present State/PS) ke kondisi yang diinginkan (Desired State/DS). Disingkat, dari PS ke DS, alias dari KS ke KD. Begitu pun dengan coaching. Coaching, adalah sebuah proses yang berorientasi pada tujuan. Pertanyaan pertama dalam coaching adalah menentukan apa yang ingin dicapai oleh klien dalam sesi tersebut. Gagal memfasilitasi klien untuk menjawab pertanyaan ini berarti sesi coaching yang gagal pula.

Nah, state, alias kondisi pikiran dan perasaan, dalam NLP dipengaruhi oleh setidaknya dua hal. Pertama adalah pikiran, kedua adalah gerakan. Pikiran, dalam bahasa NLP disebut sebagai representasi internal. Disebut representasi sebab ia hanya lah presentasi ulang dari kejadian aslinya. Pikiran manusia, adalah hasil dari proses filter dari informasi yang didapat melalui kejadian asli yang dialami, lewat paling tidak 3 proses, yakni Delesi, Generalisasi, dan Distorsi. Jadilah pikiran kita tidak murni seperti kejadian aslinya, melainkan telah mengalami pengurangan, penyamarataan, dan pengkaburan informasi. Pikiran inilah—bersama gerakan tubuh—yang kemudian mempengaruhi state, yang ujung-ujungnya mempengaruhi perilaku.

Maka dalam NLP, jika kita ingin mengubah perilaku, ubahlah state yang memicunya. Yang artinya, ubahlah pikiran dan gerakan tubuh Anda. Bagaimana mengubah pikiran? Dengan mengubah kualitas informasi yang ada dalam pikiran. Konfigurasi dari apa yang dihapus, disamaratakan, dan dikaburkan inilah yang ‘dimainkan’. Menggunakan model dalam NLP bernama Meta Model, seorang coach dapat membantu kliennya untuk menyusun ulang pengalaman internal yang mempengaruhi state-nya, dan pada akhirnya mempengaruhi perilakunya. Meta Model adalah pola bertanya untuk mendapatkan informasi secara presisi.

Lebih jauh, state yang dipengaruhi langsung oleh pikiran kerap disebut juga dengan primary state. Nah, ternyata, para pakar Neuro Semantic menemukan bahwa state yang kita alami tidak hanya satu, melainkan berlapis-lapis yang satu sama lain saling mempengaruhi. State yang ‘lebih tinggi’ dari state lain sehingga mempengaruhinya disebut dengan meta state. Maka state ‘sedih’, bisa berubah dampaknya jika ‘dinaungi’ oleh state ‘tertawa’, sehingga menjadi ‘menertawakan kesedihan’. Beda kah antara ‘sedih’ saja dengan ‘menertawakan kesedihan’? Sangat!

Jika primary state dipengaruhi oleh pikiran, begitu pun dengan meta state. Hanya bentuk pikirannya berbeda. Ia tidak spesifik berbentuk gambar, suara, atau sensasi rasa, melainkan kalimat-kalimat global yang kita sebut sebagai keyakinan, nilai, prinsip, paradigma, identitas diri, dll. Ia lah jenis pikiran yang kerap tertanam dalam melalui pengalaman, pengajaran, pola asuh, dan pendidikan, hingga kerap tak disadari, namun justru memberikan dampak besar. Kaidahnya adalah pikiran yang ‘di atas’ menaungi pikiran yang di bawah. Mengapa state malas yang muncul kala memikirkan olahraga? Oh, rupanya sebab meyakini bahwa olahraga itu melelahkan. Jadilah pikiran rasional bahwa olahraga itu menyehatkan, kalah oleh keyakinan yang entah bagaimana lebih dalam tertanam bahwa olahraga itu melelahkan.

Nah, jika seorang coach bisa membedah state primer dengan pertanyaan presisi ala Meta Model, ia pun bisa membedah meta state dengan pertanyaan global ala Meta Questions. Jadilah seorang coach berbasis NLP bisa bermain pertanyaan spesifik dan pertanyaan global untuk memfasilitasi perubahan pada kliennya. Coach yang tidak berbasis NLP pun sejatinya kerap menggunakan dua jenis pertanyaan ini. Namun dalam bentuk yang biasanya belum terlalu terstruktur, seperti halnya dalam Meta Model dan Meta Question.

Kembali pada pola dasar perubahan di atas tadi, kini kita bisa mengembangkan beberapa langkah sebagai berikut:

  1. Diskusikan kondisi yang diinginkan, pelajari kondisi saat ini. Misalnya ingin berubah dari malas olah raga menjadi rajin olah raga.
  2. Bedah state pada kondisi saat ini, apa saja pikiran dan keyakinan yang menaunginya sehingga sulit diubah. Misalnya olah raga itu bikin lelah (keyakinan), saya bukan orang yang suka olah raga (identitas diri).
  3. Bedah state pada kondisi yang diinginkan, apa saja pikiran dan keyakinan yang perlu menaunginya agar bisa bertahan. Misalnya olah raga itu menyenangkan (keyakinan), lebih baik berolahraga daripada masuk rumah sakit (nilai), saya orang yang menikmati olahraga (identitas diri).
  4. Diskusikan rencana tindakan yang spesifik menggunakan Meta Model. Misalnya lari pagi setiap akhir pekan selama minimal 30 menit.

Sekian dulu ya. Akhirnya bisa kita pahai bahwa memang NLP Itu Coaching Banget.

Diambil dari artikel Rony FR.

Anda tertarik untukmenguasai ilmu NLP ? silahkan gabung bersama kami dalam training :

  • NLP Practitioner
  • NLP Master
  • NLP Trainer

sertifikasi nasional NeoNLP Society Indonesia.

wa : 081802115340.

Categories
Artikel

NLP bukan hanya sekedar ilmu terapi

Mungkin di pikiran salah satu pembaca langsung kaget: Hah, NLP bukan hanya sekedar ilmu terapi?

Banyak orang salah paham dan berekspektasi terlalu sempit saat belajar di kelas -kelas NLP. Mereka menyangka, ilmu NLP itu hanyalah sekedar ilmu terapi, mirip-mirip semacam hypnotherapy, EFT atau yang sejenis, yang hanya mengajarkan teknik-teknik terapi siap pakai. Senyatanya NLP lebih luas dari itu, NLP adalah ilmu modeling, ilmu untuk menduplikasi keunggulan.

Modeling dalam NLP memungkinkan Anda untuk mempelajari dan menduplikasi keunggulan seseorang. Aplikasi modelling ini sungguh tak terbatas, nyaris bisa dikatakan “Bila ada seseorang pernah melakukan sesuatu hal, maka dengan modeling kita juga dapat menduplikasi agar bisa melakukannya juga”.

Di artikel ini, misalkan kita andaikan akan  melakukan modeling untuk memiliki self confidence yang diperlukan dalam kehidupan. Untuk itu, kita akan melakukan serangkaian proses modeling untuk membuat perubahan prilaku dan kebiasaan.

Dalam perspektif NLP, model perubahan perilaku itu dibuat bentuk dalam bagan berikut ini:

PS –> DS

Perubahan selalu dimulai dari Kondisi Saat Ini (PS) ke Kondisi Yang Diinginkan (DS), pengertian ‘Kondisi’ adalah meliputi Pemikiran, Perasaan dan Fisiologi. Dalam konteks Self Confidence, maka suatu perubahan dimulai dari kondisi (pemikiran, perasaan dan fisiologi) yang tadinya kurang percaya diri, dibawa berpindah ke Kondisi yang lebih percaya diri di berbagai aspek kehidupan.

Untuk mencapai kondisi percaya diri ini, kita membutuhkan sumberdaya. Sumberdaya ini bisa saja berupa: kemampuan membuang belief yang tidak memberdayakan, meng-install belief baru yang memberdayakan, kemampuan imajinasi, tindakan nyata, perasaan bahagia mengenai suatu hal, dan lain-lainnya.

Dengan cara-cara yang biasa dikenal di masyarakat, perubahan prilaku untuk bisa menjadi percaya diri, sangatlah perlu waktu lama, karena membutuhkan pembiasaan prilaku baru. Disamping itu, diyakini bahwa perubahan prilaku membutuhkan suatu will power (kehendak kuat) agar bisa berhasil.

Oleh karena itu, perubahan prilaku untuk membangun kepercayaan diri dengan cara-cara biasa seringkali tidak berhasil. Hal ini disebabkan tidak banyak orang yang memiliki kehendak kuat dan siap bertahan untuk melakukan pembiasaan perubahan dalam jangka lama.

Dengan teknik NLP, perubahan prilaku untuk membangun kepercayaan diri tidak memerlukan suatu ‘will power’ untuk sukses. Sebab teknik NLP melibatkan pendekatan yang mempengaruhi pikiran sadar dan bawah sadar sekaligus. Ingat, salah satu bagian di dalam pikiran sadar mengandung yang namanya faktor kritis (critical factor). Karena sifatnya yang kritis, maka bagian ini yang sering menghambat perubahan prilaku, maka diperlukan will power. Namun jika kita mampu menembus bagian ini, maka perubahan prilaku bisa dilakukan dengan mudah.

Dengan teknik-teknik NLP yang akan segera anda kuasai, anda benar-benar belajar mengubah kebiasaan langsung ke sumbernya yaitu di level bawah sadar. Ingat, belief system, kebiasaan dan prilaku itu tertanam di bawah sadar. Dan kita sudah ketahui bahwa self confidence erat berhubungan dengan belief system, kebiasaan dan prilaku.

NLP seperti juga hypnotherapy, memiliki kemampuan menembus bawah sadar seseorang dengan efektif. Perbedaannya, dalam NLP tidak diperlukan suatu kondisi (state) yang seperti ‘tidur’, sebagaimana yang dilakukan dalam hypnosis. Sehingga NLP bisa dilakukan secara pribadi, dengan lebih mudah, fun dan informal.

Bawah sadar memiliki cara bekerja yang khas, dan selalu melakukan apa yang diminta secara konsisten.

Diambil dari tulisan Roni FR.

Categories
Artikel

Menjadi Bahagia Itu Mudah

Pada dasarnya, kita semua dicipta untuk menjadi bahagia, sehingga menjadi bahagia itu mudah seharusnya. Banyak manusia didunia ini menganggap bahwa dirinya adalah orang yang diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan paling menderita. Berbagai macam alasannya misalnya; ada yang merasa hidupnya tidak mempunyai harta dan menganggap dirinya sangat miskin. Miskin dan menderita menjadi suatu keyakinan yang tertanam kuat dalam pikirannya dan menjadi perilaku sehari-hari. Setiap hari yang dilakukan hanyalah meratapi nasibnya. Dilihat dari tampangnya kelihatan pucat, kucel, dan benar-benar mencerminkan kesusahan dan kemiskinan dan penderitaan dan akhirnya nyatalah keyakinannya bahwa hidup memang penuh penderitaan dan kesusahan.

Ada cerita lain lagi, seseorang merasa hidupnya kelam karena selalu mengenang kejadian buruk masa lalu yang dengan setia menemaninya. Gambaran kelam masa lalu menjadi bagian terbesar dalam setiap pikirannya. Kejadian sudah lewat dan tinggal kenangan tetapi seolah-olah masih terjadi pada sekarang dan terjadi setiap saat. Dalam pikiran yang seperti ini orang tersebut hanya memberikan sedikit tempat akan adanya dunia luar yang lebih baik. Tidak aneh bahwa segala perilaku dan sumua tindakannya bertumpu pada pandangan masa lalu yang negatif. Setiap penawaran ide yang baik dan postif dari luar selalu dicurigai sebagai sebuah ancaman. Dalam pemikiran dan keyakinan yang seperti ini akan  semakin memperkuat bahwa hidupnya memang kelam baik dimasa lalu maupun dimasa yang akan datang.

Lain lagi pandangan, ada orang yang selalu memandang sesuatu dimasa depan penuh dengan kesulitan, ketidakmampuan, rasa kalah, kesulitan yang melebihi kekuatannya. Model orang seperti ini selalu membayangkan sesuatu yang belum terjadi menjadi negatif. Walalupun belum terjadi namun pikiran sudah merasakan dan mengalami hal buruk akan masa depannnya sebagai efeknya maka tidak saja pikiran yang sakit tetapi kondisi fisikpun mengalami gangguan. Dalam NLP dijelaskan bahwa” Tubuh dan pikiran adalah satu sistem dan saling mempengaruhi”

Dalam hal ini suasana hati dan pikiran lebih banyak ditentukan oleh lingkungan / orang lain. Hal ini akan menyulitkan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri. Alangkah celakanya bila pikiran dan kondisi  mental kita dikendalikan oleh dunia luar. Mendengar perkataan orang lain lebih banyak tersinggung dan seakan-akan menyalahkannya. Pada akhirnya seeorang yang memiliki pandangan seperti ini akan menyingkir dari dunia kehidupan dan lebih senang mengasingkan diri dan meratapi kekurangan dirinya.

Pada dasarnya semua manusia sudah memiliki sumber daya yang dimiliki untuk mencapai kesuksesan. Kalaupun seseorang saat ini mengalami kesedihan pada dimasa lalu pernah mengalami kegembiraan. Saat seseorang sedang mengalami kesedihan sebenarnya dapat dengan mudah menetralkan diri dari kesedihan dengan mengakses kegembiraan yang pernah dia alami dan itu sangat mudah dan gratis..ya gratis kerana itu milik kita sendiri. Kita bisa menggunakan kapan saja dan tidak ada orang yang melarang.

Demikian juga saat seseorang sedang mengalami ketakutan, kalau kita telusuri pasti seseorang pdi masa lalu pernah mengalami yang namanya keberanian. Nah inilah sumber daya yang kita miliki juga dan lebih banyak dilupakan orang dan tidak mengetahui cara menggunakannya. Kalau kita ingat-ingat sejak kecil manusia sudah memiliki modal keberanian dan kesuksesan dan keuletan yang luar biasa. Kita mungkin lupa bagaimana seorang anak kecil yang dengan penuh semangat belajar berjalan, belajar berbicara, belajar menulis, belajar naik sepeda. Semuanya dilakukan dengan penuh semangat, keberanian, pantang menyerah , sampai akhirnya berhasil. Tak terhitung anak kecil yang belajar berjalan terjatuh, tetapi ia selalu bangun dan belajar lagi. Saat tubuh sudah lelah mereka tertidur dan saat bangun mereka akan belajar lagi dan tak ada kata menyerah sampai semua anak berhasil berjalan dan berlari dengan percaya diri. Ini memberi contoh nyata bahwa Bahagia Itu Mudah.

Seperti judul diatas bahwa untuk menjadi bagaia sebenarnya sangatlah sederhana. Saat kita mau mengingat kebahagiaan di masa lalu dan optimis di masa depan maka kebahagiaan akan merasuki diri kita. Saat pikiran kita memikirkan hal yang lucu maka wajah kita akan menunjukkan ekspresi tertawa, saat kita memikirkan hal-hal yang menyenangkan maka kita akan bahagia dan tubuh akan mengikuti pikiran kita. Kalau tidak percaya silahkan:” Bayangkan bila anda mendapatkan hadiah uang 1 millyar ,apa yang anda rasakan?” Mungkin anda sudah terpikir untuk beli mobil, atau rumah atau berwisata keluar negeri atau barangkali mau traktir keluarga teman makan-makan dan lain-lain.

Lebih baik lagi bila anda memikirkan masa depan anda yang sangat cerah, penuh optimisme, kebahagiaan. Saat kita memikirkan hal yang optimis dan bahagia maka tubuh kita akan terasa nyaman, enak sehingga wajah dan ekspresi tubuh akan positif. Apabila kita memiliki penampilan yang enak dilihat orang lain, maka hubungan antar manusia menjadi lancar selanjutnya semuanya akan dibuat mudah dalam hal apapun.

Untuk menjadi bahagia dan optimis kita harus pinter memaknai setiap kejadian dengan kaca matanya terang, jernih. Kitalah yang harus menjadi tuan rumah atas diri kita sendiri, dengan demikian kita sendirilah yang menentukan kita mau bahagia atau tidak bahagia. Bagaimana seandainya anda selalu dalam keadaan bahagia, termotivasi, antusias, optimis ? tentu menarik bukan ?

Banyak teknik terapi dalam nlp : Achor, Submodality,sixstep reframing,swiss Pattern dll dan semua itu sangat mudah dipelajari dan tentu saja dalam klas training.

Hypnoterapy dan NLP adalah ilmu yang mendalami tentang hal-hal tersebut diatas. Sangat penting bagi siapa saja yang hidupnya ingin lebih sukses, berdaya guna,lebih bahagia, sehngga akan terasa bahwa Menjadi Bahagia Itu Mudah. Kedua ilmu diatas sangat tepat dipelajari oleh; karyawan, guru, dosen, orang tua, manager, pengusaha, mahasiswa dan semua orang.

Hubungi kami bila anda tertarik mengikuti pelatihan  Hypnotherapy dan NLP :

IMT , wa :081802115340

Categories
Artikel

Mengenali Tanda Stress dan Cara Mengatasinya

Banyak orang kesulitan untuk Mengenali Tanda Stress dan Cara Mengatasinya, padahal dua hal ini pasti dialami oleh semua orang. Hasil penelitian dari salah satu Universitas di Amerika menunjukkan bahwa hampir 70 % penyakit fisik disebabkan oleh penyakit psikis. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan kesehatan psikis dan fisik. Salah satu gangguan psikis yang umum diderita banyak orang adalah stress.

Pengertian stress yaitu tanggapan tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap semua tuntutan yang ada diatasnya.Jadi dalam hal ini lebih menekankan reaksi tubuh terhadap tekanan kehidupan.Selain stress kita juga mengenal istilah depresi.

Sedangkan Depresi adalah reaksi kejiwaan seseorang terhadap suatu tekanan /stressor yang dialaminya. Manusia terdiri dari sisi fisiologis dan psikologis ,maka antara stress dan depresi saling bersinggungan. Gangguan psikologis akan mempengaruhi kesehatan fisiologis dan sebaliknya.

Mengenali tanda-tanda stress

Secara umum untuk mengenali seseorang stress atau tidak dapat dilihat dari sebagai berikut :

  1. Sering merasa kecewa dan marah tanpa sebab yang jelas.
  2. Tidak sanggup membuat keputusan sederhana dan hilang konsentrasi.
  3. Perasaan cemas berlebihan.
  4. Kehilangan kepercayaan diri.
  5. Melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan bahkan cenderung mudah panik.
  6. Kesulitan tidur dan bangun terlalu pagi.
  7. Badan terasa lemah mudah capek.
  8. Lelah dan loyo.
  9. Ketidakmampuan istirahat atau berhenti.
  10. Ketidakmampuan menghadapi atau menyelesaikan pekerjaan.
  11. Kehilangan minat seksual.
  12. Takut jatuh sakit atau meninggal dunia.
  13. Kadang keringat dingin dan mata berair.
  14. Sering buang air kecil, mual, perut sakit dan diare.
  15. Denyut jantung lebih kencang.

Penyebab stress

  1. Konflik pribadi yaitu stress yang disebabkan oleh konflik yang ada di diri seseorang dan belum terselesaikan, misalnya mau meneruskan kuliah dulu atau kawin dulu dan pilihan keduanya sama pentingnya.
  2. Konflik dengan orang lain yang belum di cari jalan penyelesaiannya , dalam hal ini bisa dengan teman, atasan, bawahan, keluarga dan lain-lain.
  3. Konflik sosial , misalnya memasuki area lingkungan yang baru dan harus menyesuaikan diri, situasi pekerjaan baru,budaya di lingkungan baru,dll.
  4. Tekanan kesehatan fisik yang sangat mengganggu misalnya sakit keras, menahun dll.
  5. Tekanan kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
  6. Problem dalam rumah tangga atau perkawinan.
  7. Lahirnya era teknologi baru yang menyebabkan tuntutan keahlian baru, PHK, target kerja dll.
  8. Pada anak dan remaja sering terjadi tuntutan orang tua dan sekolah yang terlalu tinggi juga menjadi sebab utama terjadinya stress.

Pengaruh stress

  1. Terhadap Fisik
  • Meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah.
  • Pernafasan dangkal dan cepat.
  • Bertambah terbukanya arteri koroner.
  • Berkontraksinya arteri lambung.
  • Organ-organ mata terbuka lebar.
  • Bertambah kuatnya kontraksi otot.
  • Dilepaskannya gula oleh hati.
  • Meningkatnya metabolisme tubuh.
  • Daya tahan tubuh menurun.
  1. Terhadap Mental
  • Menjadi pelupa.
  • Tidak dapat berfikir jernih untuk mengatasi masalah.
  • Persepsi berkurang.
  • Sulit membuat keputusan
  • Mudah tersinggung.
  • Mudah frustasi.
  • Mudah mengalami kekesewaan.
  • Merasa lumpuh dan panik.
  1. Terhadap sosial
  • Perasaan takut kehilangan kasih sayang.
  • Menurunnya rasa percaya diri.
  • Menjadi pemberontak( suka membantah pada anak dan remaja)
  • Respon terhadap kegiatan sosial rendah.
  • Kurang bisa kerjasama.

Mengatasi Stress

  1. Obat kimia

Obat-obatan harus menggunakan petunujuk dokter agar pengguanaannya tepat ,aman dan sesuai dosis. Obat penenang yang diberikan dokter biasanya berupa valium, librium,tranzene,mogadon. Dampak obat ini tentu ada yaitu menimbulkan rasa ngantuk dan mengurangi kepekaan sosial.

  1. Gaya hidup.

Gaya hidup sehat akan berdampak lebih baik dalam jangka panjang yaitu :

  • Tidak merokok.
  • Tidak menggunakan alkohol.
  • Olah raga secara teratur.
  • Rekreasi seperlunya.
  • Kembangkan hobi; musik, bertani,membaca,dll.
  • Tidur +- 7 jam sehari.
  • Memelihara berat badan yang ideal.
  • Pola makan yang sehat dan teratur.
  1. Mental Hygene

Berikan asupan yang sehat pada mental yaitu rasa semangat, pengharapan, iman yang kuat, kasih dan sayang, berfikir positif, hati yang riang gembira, olah meditasi.

  1. Manajemen Waktu.

Kadang seseorang merasa kurang waktu sedangkan pekerjaan menumpuk tiada habisnya. Hal ini disebabkan karena manajemen waktu yang kurang baik. Untuk itu perlu membuat skala prioritas kegiatan dan alokasikan waktu untuk kegiatan sosial, pribadi, keluarga,pekerjaan,spiritual dll.

  1. Berkonsultasi dengan psikolog, konselor, psikoterapis,dll.
  2. Dengan Pendekatan Neuro Linguistic Programming)NLP yaitu menggunakan: editing Sub-modality,Reframming,Anchoring,Sixstepreframing,Perceptual position,dll
  3. Dengan Pendekatan Hipnoterapi.
  4. Dengan Pendekatan Psikologi klinis.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki penegetahuan dan ketrampilan dalam membantu mengatasi gangguan psikologis. Dengan kompetensi yang dimilikinya mereka akan menggunakan  metode terapi yang sesuai dengan masalah dan karakteristik setiap pribadi.

Dewasa ini permasalahan hidup semakin berkembang dan sangat komplek, untuk itu sangat diperlukan pengetahuan tentang pencegahan,terapi dan pemeliharaan kesehatan psikologis. Neouro Linguistic Programming (NLP) san Hipnoterapi adalah metode efektif untuk membantunya.Mengatasi stress dengan pendekatan NLP. Beberapa teknik yang bisa digunakan antara lain ; teknik Anchor, Visualisasi, Sixstep Reframing, Submodality, Perseptual position. Kami selalu mengadakan training NLP dan Hipnoterapi secara berkala dan semua orang boleh mendalami ilmu ini. Ilmu ini sangat cocok dikuasai oleh para orang tua, guru, dosen, psikolog, dokter, para leader, pengusaha, tentara, polisi, mahasiswa, karyawan, pensiunan dll. Bila And tertarik silahkan hubungi kami dan sesuaikan dengan jadwal yang tersedia. Dengan ilmu ini, kita semua akan bisa mengenali tanda stress dan cara mengatasinya